kalibiru
sunrice merapi
pantai tersirat
Tuk si Bedug
Pasar Bubrah, Merapi
Candi Ijo
Taman Pelangi, Jogjakarta
Curug Silawe
Share

Pacitan mungkin identik dengan wisata Goa. Hal ini memang tidak aneh, mengingat semboyan kota Pacitan dengan "kota 1001 goa". Di Pacitan memang mempunyai kawasan yang mirip dengan gunung kidul. Namun, pusat pemerintahannya berada di bawah (lembah) dan dikelilingi dengan bukit-bukit menjulang. Hal ini menambah keindahan kota tersebut.

Selain wisata goa yang menjadi icon kota tersebut, Pacitan juga memiliki objek wisata bahari, yaitu Pantai Pancer Dor, Pantai Klayar, Pantai Srau, dan Pantai Banyutibo. Mungkin nama pantai yang terakhir masih asing di telinga kita. Namun, ketika kita sudah berada di Pantai Banyutibo, kita akan disuguhi pemandangan alam yang sangat eksotik dan natural. Untuk menuju ke pantai tersebut, kita bisa lewat jalur selatan (pinggir pantai). Nanti ada pertigaan, silahkan menuju ke arah Pantai Srau. Sekitar 4-6km, ketemu dengan pertigaan, jika lurus ke Pantai Srau, jika ke kanan menuju Pantai Banyutibo.

 

Ciri khas dari Pantai Banyutibo adalah terdapat air terjun yang berada di Pantai, mirip dengan Pantai Jagan di gunung kidul. Perbedaannya adalah di Pantai Banyutibo ini airnya lebih jernih, dan lebih deras. Konon, menurut cerita dari warga, Pantai tersebut dihuni oleh Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul). 

Disamping terdapat keindahan air terjun, dan pantai yang jernih, Pantai Banyutibo juga mempunyai bukit bukit yang indah. Jika berjalan ke arah barat atau timur air terjun, Kita akan bisa melihat Pantai dari atas, dan menambah keindahan.

 

Share
Share

Perjalanan ini dimulai dari percakapan singkat saya dan beberapa teman di salah satu jejaring sosial. Ketika itu, kami yang memang satu sekolah di SMA berencana melakukan reuni. Beberapa tempat dipilih, namun seorang teman menyebutkan nama salah satu gunung di wilayah Garut. Kamipun tertarik dan kesepakatan diambil. Papandayan, Garut si Switzerland van Java. Garut memang sudah lama dikenal dengan sebutan Swizerland Van Java. Mengapa disebut demikian? Dari yang saya tahu karena Garut adalah salah satu daerah di Jawa Barat yang dikelilingi banyak bukit dan gunung sehingga menyerupai Negara Swiss.

 

Hari keberangkatanpun akhirnya datang. Rencananya kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan pukul 09.00. Karena ketika itu tanggal merah dan Jakarta tidak semacet biasanya, sebelum pukul 09.00 kami sudah berkumpul di terminal. Setelah cek perlengkapan, perbekalan dan personil yang akan berangkat, kamipun siap menuju Garut. Terminal kampung rambutan ketika itu begitu ramai. Terlihat juga beberapa mas-mas dan mbak-mbak yang menggendong tas cariel. Sepertinya long weekend kali ini gunung akan menjadi salah satu tempat favorit.

 

Tak mau ketinggalan kamipun segera bergegas menyusun tas cariel dan backpack di bagasi. Pukul 09.15 bus yang akan membawa kami menuju Garut siap berangkat. Perjalanan ketika itu lancar meski di beberapa titik bus yang kami tumpangi harus berjalan agak merayap karena padatnya kendaraan yang menuju puncak. Jalan yang berkelok-kelok khas daerah perbukitan menyambut kedatangan kami. Pukul 14.30 bus yang ditumpangi tiba disalah satu pom bensin di daerah Cisurupan. Kami memang sengaja tidak turun di terminal Cisurupan agar tidak terlalu malam ketika sampai di pos awal pendakian.

 

Setelah melaksanakan shalat dan makan, beberapa teman mencari mobil pick up yang akan mengangkut rombongan. Tawar menawar hargapun terjadi, dan disepakati harga sewa sebesar Rp.225.000 untuk 2 mobil pick up ukuran kecil. pukul 17.00 kami bersiap meninggalkan pom bensin menuju pos awal pendakian. Jalan awal menuju Papandayan baik akan tetapi setelah melewati pemukiman warga jalan berubah berlubang di sana sini dengan cekugan yang cukup dalam sehingga membuat tubuh pick up terguncang, kamipun harus berpegangan erat pada pinggir pick up agar tidak terlempar keluar.

 

 

Setelah menempuh waktu 1 jam perjalanan, kamipun akhirnya tiba di tempat parkir pos awal pendakian. Beberapa pick up terlihat sudah menurunkan beberapa pendaki lain dengan pernak-pernik barang bawaannya. Setelah regristrasi ulang dan membayar biaya masuk sebesar Rp.4.000 kamipun segera menuju mushola.

 

Setelah shalat, checking barang bawaan dan istirahat dirasa cukup, sekitar pukul 20.00 perjalanan dimulai. Bebatuan berwarna putih menyambut tapak awal pendakian. Di kejauhan terlihat kilatan cahaya senter dari pendaki lain yang sudah terlebuh dahulu naik. Setelah melewati jalan berbatu, bau gas belerang mulai tercium. Bau yang dihasilkan begitu tajam sehingga bagi yang tidak membawa masker akan sulit untuk bernafas.   

 

Memang, gunung dengan ketinggian 2665 Mdpl dan bertipe stratovolcano ini termasuk salah satu gunung yang masih aktif dan terakhir meletus pada tahun 2002. Gunung ini memiliki beberapa kawah yang terkenal diantaranya adalah kawah Mas, kawah Baru, kawah Nangklak, dan kawah Manuk.

 

Setelah melewati jalan terjal berbatu putih, struktur jalan akan bervariasi. Terkadang landai ada pula yang berupa tanjakan-tanjakan dengan sisi jurang. Setelah lokasi kawah dilalui, kita akan mulai menjumpai vegetasi tumbuhan.

 

Jam menunjukkan pukul 22.30, setelah menempuh perjalanan selama 2 jam 30 menit akhirnya kami sampai di Goberhood. Di sinilah para pendaki biasanya mendirikan tenda untuk melepas lelah selama perjalanan. Selain di Goberhood pendaki juga bisa beristirahat di Pondok Salada. Karena malam sudah larut dan lelah melingkupi, sang kapten memutuskan untuk mendirikan tenda di Goberhood. Karena lapar dan udara dingin yang mengigit, sebelum tidur kami menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu.

 

Pagi menjelang, udara masih tetap mengigit. Setelah mencari lokasi untuk berwudhu dan mengisi kantung-katung air yang sudah kosong, saya dan 4 orang teman mencoba untuk melihat matahari terbit. Tapi sayang, sun rise tidak dapat dinikmati dari Goberhood karena terhalang bukit.

 

Pagi tetap dijalani layaknya rutinitas pagi. Setelah sarapan sambil menikmati udara Papandayan, kamipun kembali bersiap untuk berangkat menuju Tegal Alur. Cariel kami tinggal di tenda. Perjalanan kembali di mulai.

 

Untuk menuju Tegal Alur, dari Goberhood kami melewati Pondok Salada. Dari Goberhood ke Pondok Salada kontur tanah cenderung gembur dengan didominasi tumbuhan yang rapat. Setelah berjalan sekitar 20 menit, akhirnya kami tiba di Pondok Salada. Tenda warna-warni berdiri kokoh saling berdekatan.

 

 

Dari Pondok Salada menuju Tegal Alur sebenarnya memiliki dua jalur. Jalu cepat dan jalur memutar. Jika melewati jalur memutar kita akan terlebih dahulu melewati hutan mati, baru tegal alur. Tapi jika melewati jalur cepat kita tinggal memanjat dinding tebing curam berbatu layaknya bekas aliran air yang mengering seperti ini.

 

 

Di jalur ini kita harus pandai-pandai memilih pijakan pada batu agar tidak terpeleset. Sangat tidak disarankan melewati jalur ini ketika sedang berkabut atau hujan karena risikonya akan sangat besar sekali.

 

Ketika tubuh mulai terasa lelah memanjat bebatuan, istirahatlah sejenak sempatkan untuk memutar badan kebelakang (tapi tetap mencari pegangan yang dirasa kuat ya..) dan kita akan menemui pemandangan cantik seperti ini.

 

 

Satu kata yang dapat saya katakana ketika itu. Sempurna. Setelah sejenak beristirahat, segeralah melanjutkan perjalanan karena sesuatu yang indah sudah menanti di depan sana. 1..2..3.. dan… setelah atraksi panjat memanjat sekitar 30 menit itu inilah yang kita dapatkan.

 

 

 

Rimbunan edelwais siap menenggelamkan tubuh saya. “ternyata pohon edelwaisnya tinggi-tinggi” itu yang pertama kali terbesit dalam benak ketika itu. Inilah salah satu jalan menuju tegal alur. Setelah berjalan santai sambil menengok ke kiri dan kekanan menikmati rimbuna edelwais, 10 menit kemudian sampailah kami di sebuah lapangan cukup luas masih dengan rimbunan pohon edelwais plus bonus danau. And this is it… Tegal Alur…

 

Tempat ini memang luas, akan tetapi tidak boleh dipergunakan untuk mendirikan tenda. Mungkin karena dikhawatirkan akan merusak kelestarian edelwais di tempat ini yang memang masuk ke dalam area konservasi.

Setelah makan siang dan menikmati indahnya suasana alam di tegal alur, perjalanan pun di lanjutkan ke hutan mati. Mengapa dinamakan hutan mati? Karena keadaan hutan disana yang memang tidak memiliki daun dengan batang-batang pohon yang menghitam. Ini merupakan hasil letusan gunung Papandayan di tahun 2002 silam.

Perjalanan dari tegal alur menuju hutan mati tidak se-ekstrim ketika dari pondok salada ke tegal alur melalui jalur cepat, hanya saja kita harus tetap hati-hati karena kondisi jalurnya yang menurun dengan kombinasi bebatuan dan tanah yang gembur serta jurang yang hanya berjarak 3 jengkal di sisi kanan semakin memacu adrenalin. Setelah berjalan sekitar 30 menit, sampailah kita di hutan mati.

 

Kami tidak sedang berada di negeri penyihir Harry Potter, tapi ya memang disitulah keindahan hutan mati Papandayan yang mungkin tidak dapat ditemui di gunung-gunung lain. Cantik, eksotis dan agak mistis kalau kabutnya mulai turun. Tidak terbayang dahsyatnya letusan Papandayan di tahun 2002 sampai menghasilkan hutan yang seperti ini.

Meski memiliki suasana yang mencekam, tempat ini tetap cocok dijadikan lokasi foto yang unik dan menarik. Dari hutan mati kita pun dapat melihat kawah yang berada di sisi bawah, sayangnya ketika kami di hutan mati kabut sedang turun sehingga sulit melihat kawah dari lokasi ini. Satu hal yang tidak boleh terlupakan jika berada di lokasi ini adalah tetap mempersiapkan masker karena sewaktu-waktu gas belerang akan terbawa angin hingga sampai ke tempat ini.

 

Waktu menunjukkan pukul 13.15, saatnya kembali ke Goberhood. Perjalanan dari hutan mati menuju Goberhood harus melalui pondok salada terlebih dahulu. Kondisi tanah di sekitar hutan mati masih didominasi warna putih yang tergolong landai dan kita pun akan melalui aliran sungai-sungai kecil.

Pukul 13.30 kami sampai di lokasi pondok salada. Cuaca sedang agak kurang bersahabat ketika itu. Mendung melingkupi, setelah beristiraha sebentar kami memutuskan untuk segera menuju Goberhood karena sepertinya hujan akan turun . Di tengah perjalanan ternyata gerimis mulai jatuh satu-satu. Langkah kaki sengaja kami gerakkan cepat dan akhirnya sampailah kita di tenda tercinta. Hujanpun benar-benar turun.

Kami memutuskan untuk turun gunung sore ini karena Minggu kami harus sudah sampai di Jakarta. Setelah hujan agak reda kami segera Shalat dan membereskan tenda beserta peralatannya. Pukul 16.30 persiapan turun gunung selesai. Setelah membereskan sampah-sampah dan memastikan tidak ada peralatan yang tertinggal, kami meninggalkan Goberhood. Gerimis kembali turun.

Ada yang berbeda ketika kami hendak meninggalkan lokasi Goberhood. Beberapa pengendara motor usia paruh baya terlihat sedang bersantai. Dalam benak ketika itu terlintas “gak salah nih naik motor di gunung, jalannya lewat mana??”. Usut punya usut dari hasil percakapan dengan sopir yang mengantar pulang dari Papandayan, ternyata Papandayan selain digunakan untuk pendakian juga biasa digunakan untuk olahraga lain seperti motor cross dan sepeda gunung. “disini memang tidak untuk pendaki saja neng, biasanya ada pengendara motor sama sepeda gunung, ada jalurnya sendiri-sendiri” begitu tuturnya.  

Cuaca masih mendung ketika kami meninggalkan Goberhood. Kondisi tanah gembur seusai diguyur hujan memang menjadi sangat licin. Kami harus berhati-hati dan saling berpegangan satu sama lain serta beberapakali sedikit menempelkan tubuh sambil berpegangan erat ke dinding tebing karena di sisi kanan kami terdapat jurang. Perjalanan cukup berat akhirnya dilalui dan sampailah kami di lokasi kawah. Ketika itu jam menunjukkan pukul 18.05 suara adzan samar-samar terdengar dari desa terdekat. Suara kawah bergemuruh memecah kesunyian. Bau gas belerang semakin menyengat. Kami segera mempercepat langkah karena memang akan berbahaya terlalu lama berada di daerah yang memiliki kandungan belerang atau sulfatara tinggi. Tepat pukul 18.30 akhirnya kami sampai di pelataran parkir awal pendakian.

Setelah shalat dan beristirahat, kami memutuskan untuk pulang. Pulul 20.00 pick up yang menjemput kami datang. Kami sampai di terminal Cisurupan sekitar pukul 10.00. kami masih harus menunggu lama karena bus yang akan membawa rombongan ke Jakarta masih ngetem mencari penumpang. Pukul 23.20 akhirnya bus berangkat dari Cisurupan menuju Jakarta. Saya tengok kiri-kanan, ternyata bus yang kami tumpanggi itu penuh dengan pendaki lain. Yah inilah teman senasib sependakian. Kita akan sama-sama pulang menuju Jakarta. Pukul 03.15 akhirnya kami tiba di terminal Kampung Rambutan. Meski masih tergolong dini hari, terminal ternyata sudah penuh dengan aneka bus akan tetapi belum siap beroperasi. Kami putuskan untuk istirahat sejenak sambil menunggu waktu subuh tiba. Setelah shalat Subuh, dari Kampung Rambutan kami putuskan untuk berpisah dan mencari bus yang akan mengantar sampai ke tujuan akhir kami hari itu. Rumah. Ada yang menuju Cilegon, Kebon Nanas, dan saya sendiri menuju balaraja. Saya jadi teringat semboyan para pendaki gunung. “jangan mengambil apapun selain gambar, jangan membunuh apaun selain waktu, dan jangan meninggalkan apapun selain kenangan”. Sampai berjumpa di titik vertikal selanjutnya.

Salam hijau, salam lestari.

 

Share
Share

Siang itu udara terasa sangat terik. Jam menunjukkan pukul 12.00 ketika saya sedang berada di salah satu kampus di bilangan Rawamangun Jakarta. Setelah selesai menunaikan shalat dzuhur, kembali saya lirik jam dan sepertinya masih terlalu siang untuk cepat-cepat kembali ke rumah saya di daerah Tangerang. Terbesit sekilas lintasan dalam pikiran untuk mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada di Jakarta. Monas, kota Tua, Museum Nasional, atau mencari buku-buku lama di Kwitang menjadi pilihan ketika itu. Mengingat matahari yang kian meninggi, akhirnya pilihan itu jatuh pada Kota Tua. Kebetulan saya memang belum pernah kesana.

Dari Rawamangun perjalanan saya mulai dengan menaiki bus Trans Jakarta. Setelah naik turun dan bergonta-ganti bus – Memang itu seninya menaiki bus trans – akhirnya sampai juga di tempat yang saya tuju. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 13.45. Suasana di Kota Tua ramai sekali,  maklum ketika itu memang sedang bertepatan dengan liburan sekolah dan menjelang pergantian tahun. Pedagang dengan beraneka dagangan berjejer di sepanjang jalan menuju museum Fatahillah. Pengunjung mulai dari anak-anak hingga dewasapun tak mau kalah turut berjejalan di sepanjang jalan. Tempat pertama yang saya kujungi adalah museum Fatahillah. Ternyata suasana disana tak kalah ramainya. Niat hati ingin melihat benda-benda di dalam museum harus diurungkan karena museum sedang dalam proses perbaikan, akan tetapi melihat museum dari kejauhan sambil sesekali membidikkan kamera kearahnya sudah cukup menyenangkan.

Mengunjungi Kota Tua rasa-rasanya kurang menarik jika hanya mengunjungi museum Fatahillah. Setelah melihat peta yang terpampang di sudut-sudut Kota Tua, perjalananpun saya lanjutkan kebeberapa bangunan lain. Kali ini saya memilih berjalan kaki untuk menuju beberapa bangunan di seputaran Kota Tua. Tujuan saya ketika itu adalah Jembatan Kota Intan.

10 menit berjalan saya belumjuga menemukan jembatan yang dituju, akhirnya sayapun memutuskan untuk bertanya pada salah satu penjual yang kebetulan berjualan di daerah tersebut. “mbaknya tinggal jalan lurus saja, nanti ketemu perempatan masih lurus terus kedepan. ada angkot yang ngetem nah disitu ada jembatan yang warnanya merah disitu tempatnya”.

Dengan berbekal petunjuk dari penjual tersebut, sayapun melanjutkan perjalanan. Sekitar 15 menit kemudian barulah saya sampai di tempat yang dituju. Jembatan berwarna merah menyala terlihat mencolok di sore yang cerah itu.

Jembatan yang dibangun oleh VOC dengan gaya tradisional Belanda pada tahun 1628 ini adalah jembatan yang masih tersisa dari jembatan-jembatan lain yang dibangun pemerintah Belanda di Batavia. Jembatan ini pernah rusak ketika Banten dan Mataram menyerang benteng Batavia pada tahun 1628 dan tahun 1629, akan tetapi tak lama setelah itu dibangun kembali. Setelah beberapa kali berganti nama akhirnya nama Jembatan kota Intan menjadi nama yang masih dipakai sampai sekarang. Nama Jembatan Kota Intan diambil dari sebuah Kastil Batavia yang kebetulan terletak di dekat jembatan yaitu Bastion Diamont.

Yang menarik dari jembatan ini adalah pengunjung masih dapat melintasi jembatan dengan tidak terhalang dengan banyakya orang yang melintas mengingat bangunan ini terbilang sangat tua. Pengunjung yang ingin tahu sejarah jembatan Kota Intanpun tak usah khawatir, disana tersedia guide yang dapat anda tanyai atau jika tidak anda dapat membaca tulisa yang berisi sejarah singkat tentang jembatan bersejarah ini.

Puas menikmati suasana dari atas jembatan, saya lanjutkan lagi perjalanan kesalah satu bangunan yang masih dalam lingkup Kota Tua. Toko Merah.

Kembali saya langkahkan kaki untuk menuju ke tempat itu. Cuaca sore masih terasa terik. Lalu lalang kendaraan masih terlihat ramai. Setelah berjalan sekitar 10 menit akhirnya saya tiba di tempat yang dituju. Bangunan ini benar-benar terletak tepat di pinggir jalan raya dan berhadapan langsung dengan sungai sehingga tidak begitu sulit untuk menemukannya. Yang pertama kali terpikir ketika sampai ke tempat ini adalah ternyata bukan hanya namanya saja Toko Merah, tapi bangunannya memang benar-benar berwarna merah.

Awalnya tempat ini saya kira sebuah museum tapi ternyata anggapan saya salah. Setelah beberapa kali berganti-ganti pemilik semenjak dibangun pada tahun 1730, Toko Merah saat ini telah menjadi sebuah restoran. Saya pun hanya mencukupkan diri melihat bangunan dari arah luar. Meski sudah berdiri dari tahun 1700-an, bangunan dengan arsitektur perpaduan gaya klasik Eropa dengan Cina ini masih terlihat sangat kokoh dengan batu bata yang sengaja tidak diplester dan diperkuat dengan cat berwarna merah hati.

Bagi pengunjung yang ingin mengetahui sejarah singkat atau foto-foto tentang bangunan tua ini, bisa melihat pada papan yang tertera di pelataran Toko Merah.

Matahari kian meredup, saya cukupkan perjalanan hari itu. Berwisata ke tempat-tempat bersejarah memang dapat menjadi salah satu alternatif wisata yang cukup menarik terutama dapat menjadi sarana edukasi. Meski hanya beberapa tempat saja yang berhasil saya kunjungi, tapi dapat melihat beberapa bangunan bersejarah setidaknya dapat mengingatkan bahwa kemerdekaan negeri ini didapat dengan perjuangan dan perjalanan sejarah yang tidak sebentar. Maka kewajiban kitalah sebagai penerus negeri untuk dapat selalu menjaganya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu dan mau menghargai sejarah panjang bangsanya.

Anda tertarik?? Silahkan mencoba..  

Share

Artikel Terbaru

Pantai Watu Lumbung, Lumbungnya Surga Gunung Kidul12 Feb 2016 02:00Pantai Watu Lumbung, Lumbungnya Surga Gunung Kidul

Gunung kidul merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi D. I. Yogyakarta. Terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, Gunung Kidul berbatasan langsung dengan Klaten, Sleman, Bantul. Di sebe [ ... ]

SUMBING DENGAN SEGALA KOMPLEKSITASNYA13 Oct 2014 08:47

“Ayo mendaki Pak Irfan!”, ajak waka Kesiswaan Pak Firman Hasa.  “Ayok lah…. Emang mau mendaki kemana?”, kataku bersemangat. “Gak ngerti juga. Enaknya dimana Pak?” “Lha siapa aja? U [ ... ]

Masjid 'Tiban' Malang10 Oct 2014 02:37Masjid 'Tiban' Malang

Masjid "Tiban" Malang terletak di desa Turen, Malang, Jawa Timur. Dinamakan masjid "Tiban" karena konon masjid ini tiba-tiba berdiri hanya dalam semalam saja. Ada isu yang beredar bahwa yang mendiri [ ... ]

FacebookTwitter

Login

Statistik Pengunjung

Hari ini113
Kemarin105
Minggu ini705
Bulan ini3407
Total275960